Disaat Maksiat Waktu Berjalan Singkat
Oleh: H.Agus Ishak
Ketua Yayasan Arafah Mukapayung & YPPI Al-Furqan Citapen
“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS.Muhammad:12).
Berlalunya waktu dan bergeraknya masa terasa begitu cepat. Kesenangan dan hiruk pikuk dunia yang kita jalani, menjadi salah satu hal yang melelapkan kita. Lalu kita pun dibuat terlena. Dalam keterlenaan inilah waktu terasa begitu cepat.
Kita seperti orang yang sedang naik kendaraan. Sepanjang perjalanan kita tidak henti-hentinya bercerita yang menyenangkan dan tertawa-tawa bersama kawan sekendaraan.
Terkadang musikpun tidak henti-hentinya mengalun mengiringi perjalanan. Rasa sadar baru tumbuh setelah tempat yang kita tuju sudah demikian dekat.
Perjalanan dalam kendaraan terasa begitu cepat, padahal jarak yang ditempuh sangat jauh. Meski di dalam kendaraan itu yang telah dibicarakan cukup banyak, tapi rasanya belum puas.
Dalam iringan kegembiraan, apalagi disertai kemaksiatan, perjalanan waktu terasa begitu singkat.
Dalam perjalanan hidup kita, jika gemerlap kesenangan yang sedang kita tempuh, waktu terasa selalu kurang dan terasa sangat pendek. Meski kesukacitaan telah ditumpahkan habis-habisan, tapi selalu saja tidak terpuaskan. Besok hari agar kepuasan itu tercapai segala hal dilakukan.
Berapapun yang harus dihabiskan tidak jadi soal, yang penting kepuasan tercapai. Terus begitu sepanjang waktu, sampai akhirnya lupa kalau perjalanan diri sudah mendekati batasnya. Umur sudah memasuki saat-saat untuk terbenam.
Manusia yang imannya kokoh kepada Allah SWT tidak akan terlena dengan kesukacitaan atau keserbasenangan hidup, karena tujuan hidupnya bukan itu.
Lain halnya dengan orang-orang kafir yang hedonis (memuja-muja kesenangan duniawi), jika bersenang-senang dia bersenang-senang sampai lupa segala-galanya. Lupa waktu, lupa prilaku.
Sebagaimana yang Allah SWT nyatakan , bahwa kehidupan orang-orang yang ingkar kepada kebenaran dari Allah itu cenderung hanya ingin bersenang-senang, seperti bersenang-senangnya binatang. Di pikirannya hanya urusan pesta-pesta dan makan-makan. (QS.Muhammad:12).
Kalau prilaku manusia seperti yang disebutkan tadi, hanya senang-senang dan makan-makan seperti binatang, tidak peduli halal-haramnya yang dimakan, maka pantas kalau kemudian dirinya lupa pada segalanya.
Bukan hanya Allah SWT yang dilupakan, bahkan dia sudah lupa pada dirinya sendiri. Dia menjadi manusia lupa diri dan tidak tahu diri. Juga tidak tahu bahwa hidup itu ada ujungnya. ***
