405 Lulusan Hebat STIKes Budi Luhur Cimahi Diwisuda, 243 Alumni Tembus Dunia Internasional
BANDUNG — Sebanyak 405 mahasiswa STIKes Budi Luhur Cimahi resmi menyandang gelar akademik setelah mengikuti Wisuda XXVII dan Angkat Sumpah di Harris Hotel Bandung, Rabu (16/9/2026).
Laporan pendidikan disampaikan Ketua STIKes Budi Luhur Cimahi, Sri Wahyuni, S.Pd., M.Kes., Ph.D. Ia menyebut seluruh program studi turut meluluskan mahasiswa pada wisuda tahun ini.
“Alhamdulillah hari ini kita meluluskan 405 orang dari semua prodi,” ujar Sri Wahyuni.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 223 merupakan Sarjana Keperawatan, 84 Profesi Ners, 64 D3 Keperawatan, 11 Profesi Bidan, dan 23 D3 Kebidanan.
Capaian kelulusan Uji Kompetensi Nasional (Ukomnas) juga tergolong tinggi. D3 Kebidanan mencatat kelulusan 100 persen, D3 Keperawatan 95,52 persen, dan Profesi Ners 92,13 persen.
“Untuk mahasiswa KIP, kelulusan Ukomnas bahkan mencapai 100 persen,” katanya.
243 Alumni Telah Menembus Dunia Internasional
Salah satu capaian yang menjadi perhatian adalah keberhasilan STIKes Budi Luhur dalam membuka akses kerja internasional bagi alumninya.
Sejak 2011 hingga September 2026, sebanyak 243 lulusan telah disalurkan bekerja ke luar negeri, antara lain Jepang, Jerman, Turki, Malaysia, Arab Saudi, dan Kuwait.
“Kami juga dipercaya BP3MI Jabar mengelola Program SMK Go Global Batch 1 dengan 120 peserta,” ungkap Sri.
Dari program tersebut, 29 peserta merupakan alumni Budi Luhur. Mereka mendapatkan pelatihan caregiver Jepang dan SPA Eropa yang dibiayai pemerintah. Untuk batch berikutnya, program dipersiapkan untuk penempatan ke Arab Saudi.
Untuk memperkuat perlindungan dan keamanan penempatan tenaga kerja, STIKes Budi Luhur memperpanjang MoU dengan KP2MI sekaligus menandatangani PKS pembentukan Budi Luhur Migrant Center.
SDM dan Riset Terus Diperkuat
Penguatan kualitas sumber daya manusia juga terus dilakukan. Saat ini STIKes Budi Luhur memiliki 14 dosen bergelar doktor atau sekitar 22,5 persen. Lima dosen juga telah menyelesaikan pendidikan Spesialis Keperawatan Medikal Bedah.
Kampus tersebut turut memperoleh hibah PTS 2025 sebesar Rp487 juta untuk pengembangan laboratorium klinik berbasis teknologi informasi.
Di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sebanyak 43 dari 59 dosen tetap terlibat dalam 20 hibah penelitian internal dan 95 kegiatan pengabdian, termasuk 10 kegiatan berskala internasional.
Hasilnya, kampus mencatat 48 publikasi ilmiah, 25 Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan 29 buku.
Tahun ini, dua proposal STIKes Budi Luhur juga lolos Hibah Nasional BIMA Kemdiktisaintek dengan total nilai Rp140,95 juta. Selain itu terdapat hibah pengabdian terkait pengelolaan sampah di Kota Cimahi sebesar Rp133,7 juta serta bantuan publikasi jurnal bereputasi Rp80 juta untuk delapan dosen.
Penguatan ekosistem penelitian turut ditandai dengan kenaikan klaster penelitian dari Klaster Binaan menjadi Klaster Pratama.
Jurnal Kesehatan Budi Luhur kini telah terakreditasi SINTA 4 dan terindeks DOAJ. Mahasiswa juga mencatat sembilan publikasi nasional dan satu publikasi internasional.
Mahasiswa Torehkan Prestasi
Prestasi mahasiswa turut menjadi bagian penting dalam capaian tahun ini.
Deri Supyandi, mahasiswa D3 Keperawatan, terpilih sebagai Duta Inspirasi Indonesia Batch 21 Kemenpora RI. Ia mewakili Jawa Barat dan dijadwalkan mengikuti kegiatan di Nusa Tenggara Timur pada 2026.
Kolaborasi kampus dengan berbagai pihak juga menghasilkan prestasi di tingkat daerah. Kelurahan Cibeber yang menjadi wilayah binaan kampus meraih juara II Desa Berkinerja Terbaik dalam Anugerah Gapura Sri Baduga Jawa Barat 2025.
Gubernur Jabar: Wisuda Bukan Akhir
Sambutan Gubernur Jawa Barat disampaikan Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Lusi Lesminingwati, SE., MM.
Dalam sambutan tersebut, para wisudawan diingatkan bahwa kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan.
“Wisuda bukanlah akhir, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar,” kata Lusi.
Ia menyampaikan sejumlah indikator pembangunan kesehatan Jawa Barat, di antaranya IPM 2025 sebesar 75,90 dan umur harapan hidup 75,53 tahun. Angka stunting Jawa Barat juga disebut turun menjadi 15,9 persen pada 2024.
Namun, sejumlah persoalan kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah, termasuk tuberkulosis, kesehatan ibu dan anak, serta pemerataan tenaga kesehatan.
Perubahan teknologi juga menuntut tenaga kesehatan terus meningkatkan kompetensi. Rekam medis elektronik, telemedicine, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi bagian dari perubahan yang tidak bisa dihindari.
“Jangan berhenti belajar. Ijazah adalah awal tanggung jawab,” tegasnya.
Lusi juga mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak menghilangkan sisi kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan.
“Jangan hanya lihat penyakitnya, lihat manusianya,” pesannya.
Para lulusan juga diminta membawa nilai budaya Sunda, yakni silih asih, silih asah, silih asuh, serta Panca Waluya: cageur, bener, pinter, bageur, dan singer.
Ilmu Adalah Amanah
Dalam pidato bertema “Membangun Generasi Kesehatan yang Unggul, Spiritual, dan Berbudi Luhur”, para wisudawan kembali diingatkan bahwa ilmu yang diperoleh selama pendidikan merupakan amanah.
Pesan tersebut menekankan pentingnya kerendahan hati dalam menjalankan profesi kesehatan.
“Ketika menolong orang, jangan merasa kita pemilik kesembuhan. Kesembuhan ada dalam kehendak Allah,” demikian pesan yang disampaikan dalam pidato.
Para lulusan juga didorong untuk tidak menjadikan jabatan dan keuntungan pribadi sebagai satu-satunya orientasi pengabdian.
“Jangan hanya tanya apa yang akan saya dapatkan, tapi apa yang dapat saya berikan,” demikian pesannya.
Empat amanah turut dititipkan kepada para wisudawan: membawa ilmu dari kampus, doa orang tua, nama baik Budi Luhur, serta nilai ketuhanan dalam setiap langkah pengabdian.
Di akhir laporan, Sri Wahyuni menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, LLDIKTI, Yayasan Pambudhi Luhur 1976, civitas akademika, mitra, organisasi profesi, serta seluruh pihak yang mendukung perjalanan STIKes Budi Luhur.
Ia juga mengapresiasi panitia wisuda yang diketuai dosen sekaligus alumni Budi Luhur, Ns. Bagja Angga Sukma, S.Kep., MAN.
“Gelar bukan hanya kebanggaan, tapi amanah besar untuk mengabdi dengan hati,” tutup Sri Wahyuni. ****
