Ibadah Menyembelih Hewan Kurban Mempunyai Nilai Kesalehan Spiritual dan Kesalehan Sosial

PERTAMA-TAMA, marilah Kita panjatkan puji syukur sehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayahnya Kita dapat berkumpul bersama-sama dalam suasana penuh berkah dan keagungan untuk melaksanakan salat sunat Idul Adha 1447 H di Mesjid Al-Irsyad dalam keadaan sehat wal afiat.

Kita doakan saudara-saudara Kita yang sedang melaksanakan serangkaian ibadah haji hususnya jama’ah masyarakat Bandung Barat semoga dapat meraih predikat haji yang mabrur, sehat, dan kembali ke tanah air berkumpul kembali bersama keluarganya dengan membawa warna ke Islaman yang memiliki semangat perjuangan dan menjadi masyarakat yang taat Ibadah kepada Allah SWT.

Salawat dan salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Nabi Kita Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga hari akhir. Amiin..YRA

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Hadirin jamaah salat Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Hari ini gema takbir membahana menandakan kemenangan iman atas hawa nafsu. Idul Adha bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan momentum meneladani kisah keluarga Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS.

Melalui momen yang mulia ini, mari kita hayati seksama tiga amanah atau pesan utama yang diwariskan dari kisah tersebut:

Pertama Amanah Keimanan dan Ketaatan total dalam bertuhid. Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putra tercintanya, Ismail. Ini adalah ujian tertinggi ketaatan.

Pesan amanah ini adalah: Allah harus menjadi prioritas utama di atas segalanya—di atas harta, jabatan, bahkan keluarga. Keimanan sejati adalah kepasrahan mutlak (tawakal) kepada Allah SWT, yakin bahwa perintah Allah pasti mengandung kebaikan, meskipun secara logika berat bahkan tidak sesuai dengan keinginan hati kita.

عَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui

Kedua Amanah Kesabaran dan Pengorbanan (kurban) Siti Hajar mengajarkan kesabaran saat ditinggal di gurun tandus, dan Ismail mengajarkan keikhlasan menerima takdir.

Kurban mengajarkan kita untuk menyembelih sifat egois, kesombongan, dan rasa memiliki yang berlebihan. Darah dan daging hewan kurban tidak sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari pemberi kurban-lah yang sampai.

Yang ketiga amanah kepedulian sosial (solidaritas) penyembelihan hewan qurban dan pembagiannya adalah simbol berbagi. Amanah ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang wajib memiliki kepekaan terhadap sesama.

Tidak boleh ada tetangga yang kelaparan di saat kita berkecukupan. Qurban melatih kedermawanan dan memupuk rasa persaudaraan (ukhuwah Islamiyah).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.

Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah

Berdasarkan tiga point yang disebutkan tadi di atas, intinya bahwa ibadah menyembelih hewan qurban mempunyai dua nilai yaitu kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.

Kesalehan spiritual dalam hal ini adalah penyerahan diri kepada Allah SWT dan mengekang egoisme,sebagaimana di contohkan Nabi Ibrahim.

Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari semangat rela mengorbankan diri, seperti dalam diri Ismail. Sikap ini penting untuk diteladani, terutama bagi generasi muda Indonesia.

Ismail adalah figur anak saleh, atau prototipe generasi muda yang baik. Ia berpandangan jauh ke depan atas dasar spiritualitas yang tinggi, berani mengambil sikap di saat situasi yang sulit, rela berkorban, dan berbakti kepada orang tuanya.

Ismail bukanlah pemuda penakut yang mudah putus asa, tapi seorang lelaki muda gentleman yang berani mengambil risiko atas sebuah prinsip yang diyakininya. Ketika hendak dikorbankan oleh ayahnya tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya dan berkata:
يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Wahai ayahku, jika memang itu perintah Tuhanmu, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Shaffat: 102).

Ismail juga dikenal sebagai sosok yang jujur. Dalam surat Maryam ayat 55 dijelaskan bahwa Ismail adalah sosok pemuda yang “shadiqal wa’di”, yaitu jujur dan menepati janji.

Imam al-Thabari dalam kitab Jami’ul Bayan menjelaskan bahwa ada dua dimensi kejujuran dalam diri Ismail. Pertama, kejujuran yang dibangun dalam relasi antar manusia, dan kedua, kejujuran yang bersifat lebih eksklusif antara manusia dengan Tuhannya.

Ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan begitu, berbohong adalah termasuk dosa besar (kabura maqtan), sebab ia telah melakukan dua hal yaitu menipu orang lain dan ingkar janji di mata Allah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.
Hadirin jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah

Terakhir Mari kita jadikan tiga amanah sebagai bekal dalam kehidupan kita untuk senantiasa meneladani totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim kepada Allah, kerelaan pengorbanan dan kejujuran Nabi Ismail, serta kegigihan dan ikhtiar yang dilakukan oleh Hajar. ***