Kang Mus Belum Pensiun, Produksi Gula Aren Tradisional Bernilai Ekonomi Tinggi di Rongga
BANDUNG BARAT– Sore menjelang Maghrib di Kampung Cisatong RT 02/019, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. asap tipis dari tungku kayu masih mengepul. Di sanalah Mustopa, yang akrab disapa Kang Mus, setia mengaduk nira panas yang perlahan mengental menjadi gula aren berkualitas.
Di usianya yang tak lagi muda, Kang Mus membuktikan dirinya belum pensiun. Sejak belasan tahun lalu, bahkan sejak masih perjaka, ia telah menekuni pembuatan gula aren tradisional yang kini menjadi sumber penghidupan sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat sekitar.
“Ini warisan turun-temurun. Tapi kalau dikelola dengan baik dan higienis, nilainya bisa jauh lebih tinggi,” ujar Kang Mus kepada awak media di sela proses produksi.
Gula aren berasal dari nira pohon aren atau enau (Arenga pinnata), tanaman khas tropis yang banyak tumbuh di wilayah perbukitan Bandung Barat. Bagi warga Desa Sukaresmi, pohon aren bukan sekadar tanaman liar, melainkan sumber ekonomi yang potensial.
Kang Mus menjelaskan, proses pembuatan gula aren dimulai sejak pagi hari. Petani menyadap nira dari tandan bunga pohon aren yang telah dipersiapkan sebelumnya. Nira yang ditampung dalam wadah bambu atau jerigen khusus harus segera dimasak agar tidak mengalami fermentasi.
Berikut tahapan pembuatannya:
Petani memanjat pohon aren untuk mengambil cairan nira yang telah ditampung. Kebersihan wadah menjadi faktor penting demi menjaga kualitas dan rasa gula. Selanjutnya penyaringan
nira yang telah dikumpulkan disaring untuk memisahkan kotoran seperti serangga atau serpihan kayu, sehingga hasil akhir tetap higienis.
Proses Pemasakan. Nira dimasak menggunakan tungku kayu selama beberapa jam sambil terus diaduk hingga mengental dan berubah warna menjadi cokelat pekat. Proses ini membutuhkan ketelatenan agar tidak gosong dan rasa tetap terjaga.
Pencetakan. Setelah mengental, cairan gula dituangkan ke dalam cetakan batok kelapa atau cetakan modern, lalu didiamkan hingga mengeras.
Pengemasan. Gula aren yang sudah padat kemudian dikemas, baik secara sederhana maupun modern, menyesuaikan kebutuhan pasar.
Selain dikenal sebagai pemanis alami, gula aren memiliki indeks glikemik yang relatif lebih rendah dibandingkan gula pasir, sehingga lebih aman dikonsumsi dalam jumlah wajar. Tak heran jika kini gula aren menjadi alternatif pemanis untuk minuman tradisional hingga kopi kekinian.
Dari sisi ekonomi, produksi gula aren membuka peluang usaha bagi masyarakat desa. Dengan pengolahan yang higienis dan pengemasan menarik, harga jual gula aren dapat meningkat signifikan, bahkan berpotensi menembus pasar ekspor.
Kehadiran pelaku usaha seperti Kang Mus menjadi contoh nyata bahwa produk lokal Desa Sukaresmi, Kecamatan Rongga, memiliki daya saing tinggi jika dikelola secara profesional tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Melalui edukasi proses pembuatan gula aren ini, Kang Mus berharap masyarakat semakin menghargai produk lokal sekaligus mendukung keberlanjutan usaha gula aren sebagai bagian dari identitas dan kekuatan ekonomi daerah, khususnya di Kabupaten Bandung Barat. ***
