Merefleksikan Perjalanan Panjang Kota Bandung, Walkot Farhan Menetap di Kota Kembang Sejak 1975

BANDUNG–Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan merefleksikan perjalanan panjang Kota Bandung yang terus mengalami transformasi.

Mulai dari kota kosmopolitan di awal abad ke-20, masa gejolak dan revolusi di pertengahan abad, hingga kemapanan di era 80–90-an, sebelum kembali berguncang di abad ke-21.

“Hal yang menarik, setiap perubahan itu tidak pernah lepas dari akar budaya yang kuat. Bandung selalu punya nilai-nilai kebudayaan yang mengikat bahkan bagi mereka yang bukan lahir di sini,” katanya di sela-sela Pagelaran Seni Wanda Sunda di El Hotel Bandung, Sabtu, 17 Januari 2026 malam.

Farhan mengaku, dirinya salah satu contoh pendatang yang kemudian terikat kuat dengan Bandung. Meski lahir di Bogor dan berasal dari latar belakang daerah berbeda, ia merasa akar budaya Bandung telah menyambut dan membentuk dirinya sejak menetap di kota ini pada 1975.

Dengan kepadatan penduduk mencapai sekitar 15 ribu jiwa per kilometer persegi, Farhan menilai Bandung telah tumbuh menjadi ekosistem pemikiran yang unik.

Berbagai wilayah mulai dari Bandung Utara, Selatan, Timur hingga kawasan barat melahirkan karakter dan platform ekspresi budaya yang beragam melalui proses asimilasi yang kaya.

“Marilah kita rayakan malam ini sebagai perayaan akar warga Kota Bandung. Akar inilah yang akan terus tumbuh dan menjadi dasar kebudayaan Bandung yang khas dan berkarakter kuat hingga masa-masa mendatang,” pungkasnya. ***