Tak Lagi Pertaruhkan Nyawa di Atas Rakit, Bupati KBB Turun Tangan Antar Siswa SDN Budiharja

BANDUNG BARAT — Persoalan belasan siswa SD Negeri Budiharja, Kecamatan Cililin, yang selama ini harus menggunakan rakit untuk berangkat dan pulang sekolah akhirnya mendapat respons nyata dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.

Bupati Bandung Barat menepati janjinya. Satu unit kendaraan antar jemput disiapkan untuk mengangkut para siswa yang tinggal di seberang Waduk Saguling.

Langkah ini menjadi solusi cepat setelah sebelumnya Bupati turun langsung melihat kondisi para siswa.

Pemandangan anak-anak harus menyeberangi waduk menggunakan rakit untuk mendapatkan pendidikan menjadi persoalan yang tak bisa dibiarkan berlarut-larut.

Apalagi, memasuki musim penghujan, risiko keselamatan semakin besar.

Pemerintah daerah sebenarnya tengah mengkaji solusi permanen, termasuk pembangunan jembatan.

Namun, pembangunan jembatan tidak bisa dilakukan seketika karena membutuhkan perencanaan, anggaran, serta proses pembangunan.

Sementara itu, anak-anak tetap harus sekolah setiap hari.

Di titik inilah Bupati Bandung Barat, Jeje Richie Ismail memilih bergerak cepat.

Kendaraan antar jemput dijadikan solusi sementara agar akses pendidikan para siswa tidak lagi bergantung pada rakit.

“Hari ini saya menepati janji untuk memberikan kendaraan antar jemput bagi siswa SD Negeri Budiharja. Karena kebutuhannya mendesak, kita memilih solusi yang bisa langsung digunakan oleh anak-anak,” ujar Bupati.

Kendaraan tersebut diserahkan kepada pemerintah desa untuk mengantar dan menjemput siswa.

Pemkab Bandung Barat juga menanggung biaya operasional selama enam bulan, termasuk bahan bakar dan gaji pengemudi.

Yang tak kalah penting, layanan tersebut diberikan gratis. Orang tua atau wali murid tidak boleh dibebani pungutan apa pun.

Teknis penjemputan dan pengantaran akan dikoordinasikan pemerintah desa bersama pihak sekolah.

Jeje menegaskan, kendaraan tersebut bukan akhir dari persoalan. Solusi permanen tetap harus disiapkan.

“Ini adalah solusi sementara, bukan solusi permanen. Kita mengambil langkah tercepat karena kebutuhan anak-anak memang mendesak. Sambil solusi ini berjalan, kita tetap menyiapkan dan mendorong solusi permanen ke depannya,” tegasnya.


Menurut Bupati, keputusan menghadirkan kendaraan antar jemput diambil setelah mempertimbangkan kondisi lapangan dan berbagai masukan. Untuk saat ini, kendaraan dinilai sebagai pilihan yang lebih aman dan nyaman bagi siswa.

“Kenapa kendaraan yang kami pilih? Karena kami mendengar masukan dari berbagai pihak, dan untuk saat ini kendaraan antar jemput dinilai menjadi pilihan yang lebih aman dan nyaman bagi para siswa,” katanya.

Dengan beroperasinya kendaraan tersebut, para siswa SDN Budiharja kini tidak perlu lagi menggunakan rakit untuk pergi dan pulang sekolah.

Rakit bukan lagi jalan satu-satunya menuju sekolah.
Namun, pekerjaan pemerintah belum selesai. Kendaraan antar jemput hanya menjadi jembatan sementara sebelum solusi permanen benar-benar terwujud.

Sebab, akses pendidikan yang aman bukan sekadar soal mengantar anak sampai ke sekolah. Keselamatan mereka harus menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah.

“Yang paling penting hari ini, anak-anak bisa berangkat dan pulang sekolah dengan lebih aman, tanpa harus lagi menggunakan rakit,” pungkas Jeje. ***