Haris Bunyamin Dorong Pusat Data Hemat Air, AI Harus Menjaga Sumber Kehidupan

BANDUNG BARAT – Pendiri Tim Advokasi Tanah Telantar Jawa Barat, Haris Bunyamin, mendorong agar perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data di Jawa Barat tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya air.

Menurut Haris, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan konservasi lingkungan. Penggunaan air untuk pusat data tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan teknis, tetapi juga harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kepentingan masyarakat.

“AI boleh semakin cerdas, tetapi air harus tetap menjadi sumber kehidupan,” tegasnya.

Gagasan ini sejalan dengan dorongan Pangauban Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING) melalui paradigma Water-Smart Data Center, yakni pusat data yang efisien energi, hemat air, dan bertanggung jawab terhadap sumber daya air.

Haris mendorong penerapan teknologi seperti closed-loop cooling, direct-to-chip cooling, pemanenan air hujan, serta penggunaan kembali air hasil pengolahan.

“Semakin besar kemampuan komputasi, seharusnya semakin kecil intensitas penggunaan airnya. Air layak minum harus diprioritaskan untuk kebutuhan manusia,” ujarnya.


Pusat Data Harus Bertanggung Jawab

Haris menekankan, investasi teknologi berskala besar harus disertai tanggung jawab ekologis.

Perusahaan tidak cukup hanya memenuhi kewajiban administratif atau membayar penggunaan air, tetapi juga perlu menjaga daerah tangkapan air, mata air, sungai, situ, kawasan resapan, dan tutupan vegetasi.

“Jika investasi memanfaatkan sumber daya air suatu daerah, tanggung jawabnya tidak boleh berhenti setelah izin terbit. Harus ada kontribusi terhadap pemulihan lingkungan,” katanya.

Konsep Water Positive dapat menjadi pendekatan, yakni perusahaan tidak hanya mengurangi konsumsi air, tetapi juga berkontribusi pada pemulihan sumber daya air secara terukur dan akuntabel.
Citarum sebagai Laboratorium Ketahanan Air

Haris menilai DAS Citarum berpotensi menjadi living laboratory yang menggabungkan teknologi digital, konservasi air, ekonomi hijau, pendidikan, dan partisipasi masyarakat.

Salah satu gagasannya adalah Citarum Water Intelligence Platform, sistem yang mengintegrasikan data kualitas dan debit air, curah hujan, sedimentasi, tutupan lahan, sumber pencemaran, potensi banjir dan kekeringan, serta rehabilitasi lingkungan.

“Dengan data yang kuat, kebijakan pengelolaan air dapat didasarkan pada kondisi lapangan yang terukur,” kata Haris.

AI untuk Menjaga Air


Menurut Haris, AI memang membutuhkan energi dan sumber daya, tetapi juga dapat digunakan untuk melindunginya.

AI dapat membantu mendeteksi kebocoran, memprediksi kebutuhan air, mengoptimalkan irigasi, memetakan perubahan tutupan lahan, mendeteksi pencemaran, serta memprediksi banjir dan kekeringan.

“AI jangan hanya menjadi konsumen sumber daya. AI harus menjadi alat untuk menjaganya,” tegasnya.

Ia menawarkan semangat “AI for Water, AI for Citarum, AI for Life.”


Pesantren sebagai Laboratorium Hijau

Haris juga mendorong pesantren menjadi pusat pendidikan konservasi air, pengolahan limbah, pemanenan air hujan, energi terbarukan, pertanian hemat air, penghijauan, pemantauan sungai berbasis sensor, dan literasi AI melalui konsep Green Pesantren Digital Laboratory.

“Santri tidak hanya perlu diajarkan menggunakan AI, tetapi juga memahami sumber daya yang digunakan, jejak ekologisnya, dan cara memanfaatkannya untuk menjaga bumi,” ujarnya.

Dorong Saguling Water Security 2045

Untuk jangka panjang, Haris mengusulkan Saguling Water Security 2045 dengan tujuh pilar: konservasi air, ekonomi sirkular air, green data and AI, green pesantren, living laboratory, ekonomi hijau, dan tata kelola air berbasis data.

Haris menegaskan, gagasan tersebut bukan penolakan terhadap AI dan pusat data.
“Kita ingin teknologi berkembang dengan etika ekologis, efisiensi air, transparansi, serta tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan.”

Menurutnya, pembangunan yang mengorbankan sumber kehidupan bukanlah kemajuan yang utuh. Teknologi harus menjadi bagian dari solusi, bukan menambah beban lingkungan.

“Teknologi untuk kehidupan, AI untuk ketahanan air, dan digitalisasi untuk menjaga bumi. AI boleh semakin cerdas, pusat data boleh semakin maju, tetapi air harus tetap menjadi sumber kehidupan,” pungkas Haris. ***