Menanam Rindu ke Baitullah, Seribu Santri Persis Belajar Menjadi Tamu Allah

JAWA BARAT — Pagi belum benar-benar ramai.
Tapi Plaza Al-Qosbah di kawasan Masjid Al-Jabbar akan segera dipenuhi ribuan langkah kecil. Lebih dari 1.000 santri.


Mereka datang dari sekitar 20 pesantren Persatuan Islam (Persis) se-Jawa Barat. Sebagian mungkin baru mengenal Ka’bah dari gambar dari buku pelajaran, dari cerita orangtua.


Ahad, 9 Agustus 2026, mereka akan mencoba mendekatinya lewat sebuah simulasi. Ihram dikenakan. Tawaf dipraktikkan. Sa’i diperagakan. Baitullah memang masih jauh. Tapi perjalanan ke sana dimulai dari sebuah latihan.


Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PW Persis) Jawa Barat menggelar Manasik Haji dan Umrah Akbar bagi santri tingkat Mu’allimin dan Tsanawiyah.


Para asatidz bersertifikat profesional di bidang haji akan membimbing mereka. Menjelaskan tahapan demi tahapan. Membetulkan gerakan yang keliru. Menanamkan pemahaman tentang ibadah yang suatu hari bisa saja mereka jalani di Tanah Suci. Namun kegiatan ini bukan cuma soal hafalan rukun dan wajib haji.


Ada sesuatu yang ingin ditanamkan lebih dalam. Kerinduan. Kerinduan untuk suatu hari berdiri di hadapan Ka’bah. Kerinduan yang tidak cukup hanya dipelihara dengan doa. Ia membutuhkan persiapan ilmu, mental dan spiritual juga uang yang harus dikumpulkan sedikit demi sedikit.


Haji tak dimulai di Tanah Suci. Di sinilah program Persis Berhaji diluncurkan. Ketua PW Persis Jawa Barat, KH Iman Setiawan Latief, akan meluncurkan program tersebut bersama Bank Syariah Indonesia (BSI).

Gagasannya sederhana. Haji jangan baru dipikirkan ketika usia sudah matang. Persiapan harus dimulai jauh sebelumnya. Masa tunggu keberangkatan haji yang panjang menjadi salah satu alasannya. Masa tunggu bahkan dapat mencapai 26 tahun.


Maka, waktu adalah bagian dari persiapan. Santri yang hari ini masih duduk di bangku sekolah kelak bisa saja menjadi jemaah yang menunggu giliran keberangkatan.


Karena itu, Persis Berhaji hendak memperkenalkan satu kebiasaan: menabung untuk sebuah perjalanan yang belum tahu kapan tiba. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari seperti mengisi kendi dengan setetes air.
Lambat tapi penuh

Dari Manasik Menjadi Gerakan


Ketua pelaksana, Dr. H. Asep Supriadi, tidak ingin kegiatan ini berhenti sebagai acara sehari. Manasik tingkat Mu’allimin tersebut dirancang menjadi program unggulan tahunan PW Persis Jawa Barat.
Tahun ini adalah permulaan. Jumlah peserta akan diperbesar. Jangkauan pesantren akan diperluas.


“Ke depan kita akan memperluas jangkauan dengan jumlah peserta yang lebih banyak,” ujar Asep.


Jika rencana itu berjalan, Plaza Al-Qosbah hari ini hanya menjadi titik awal. Dari sana, pesan tentang berhaji sejak dini akan dibawa pulang oleh ribuan santri. Masuk ke ruang kelas. Ke meja belajar. Ke rumah. Ke rekening tabungan.


Manasik, dengan demikian, bukan sekadar tiruan perjalanan menuju Makkah. Ia adalah cara untuk memperkenalkan sebuah cita-cita. Bahwa menjadi tamu Allah bukan perkara tiba-tiba. Ada ilmu yang harus dipelajari. Ada hati yang harus disiapkan. Ada bekal yang harus dikumpulkan. Dan ada waktu yang harus dihargai. Baitullah masih jauh. Tapi langkah pertama sudah dimulai.***