Kemarau Mencekik Petani KBB, Bensin Dibeli Sendiri Demi Selamatkan Sawah

BANDUNG BARAT – Kemarau panjang mulai dirasakan berat oleh petani di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Ketika sumber air menyusut dan sawah terancam kekeringan, sebagian petani terpaksa mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk membeli bensin demi menghidupkan pompa air.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat. Ia menyebut persoalan air untuk pertanian bukan sekadar masalah musim kemarau, tetapi menyangkut keberlangsungan produksi pangan dan kesejahteraan petani.

“Saya turut prihatin melihat kondisi petani kita di Bandung Barat yang saat kemarau harus merogoh kocek sendiri membeli bensin untuk menyalakan pompa demi menyelamatkan sawahnya,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini menjadi tanda bahwa ketahanan pangan KBB sedang menghadapi ujian. Petani telah bekerja keras menjaga produksi, namun dukungan infrastruktur pengairan dinilai masih perlu diperkuat.

Karena itu, DPRD KBB mendorong pemerintah daerah segera mengambil langkah darurat sebelum kekeringan berkembang menjadi gagal panen.

Ada tiga langkah yang didorong. Pertama, bantuan darurat berupa pompa air, dukungan bahan bakar serta tandon air bagi kelompok tani yang terdampak.

Kedua, solusi jangka menengah, yakni mempercepat normalisasi saluran irigasi tersier serta pembangunan embung dan dam parit di wilayah yang rawan kekeringan.

Ketiga, solusi jangka panjang melalui penguatan anggaran khusus untuk ketahanan air sektor pertanian.

“Irigasi adalah tulang punggung pertanian KBB. Jangan sampai petani sudah bekerja keras, tetapi hasilnya terancam hanya karena persoalan air,” tegasnya.

Ia menegaskan, petani tidak boleh dibiarkan menghadapi persoalan kekeringan seorang diri.
“Petani adalah pahlawan pangan kita. Negara dan daerah tidak boleh membiarkan mereka berjuang sendirian,” katanya.

DPRD KBB juga berencana turun langsung ke lapangan untuk mendata wilayah pertanian yang terdampak kemarau. Pendataan tersebut diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan langkah penanganan yang cepat dan tepat.

Bagi petani, setiap tetes air kini bukan sekadar kebutuhan untuk mengairi sawah. Di tengah kemarau, air menjadi penentu apakah tanaman bisa bertahan atau petani kembali menanggung kerugian. ****