Ketika Gotong Royong Kembali Turun ke Selokan
BATUJAJAR BARAT — Minggu pagi, 9 Agustus 2026, selokan di RW 02 Desa Batujajar Barat tak lagi sunyi.
Tangan-tangan warga turun ke dalam lumpur. Sampah diangkat. Rumput liar dicabut. Saluran air yang tersumbat dibersihkan.
Tak ada panggung. Tak ada seremonial.
Yang ada hanya warga. Bekerja bersama.
Dari orang dewasa, ibu-ibu, kader lingkungan, hingga anak-anak. Mereka bergerak membersihkan lingkungan dan saluran air di wilayah RW 02.
Gotong royong yang belakangan kerap terdengar seperti cerita lama, pagi itu kembali menemukan bentuknya.
Kegiatan tersebut digelar menyusul imbauan Kepala Desa Batujajar Barat, Erfan Hariawan, S.H., NL.P., sebagai bagian dari upaya membangun kepedulian warga terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Ketua RW 02, Heri Kurnia, tak sekadar memberi arahan dari kejauhan. Ia ikut turun ke sejumlah selokan dan saluran air, bekerja bersama warga.
Pesannya sederhana: kebersihan bukan pekerjaan satu orang. Bukan pula semata-mata urusan pemerintah atau petugas kebersihan.
Ia adalah tanggung jawab bersama.
Bukan Sekadar Mengangkat Sampah
Kerja bakti pagi itu sebenarnya bukan cuma soal sampah yang menumpuk di selokan.
Ada sesuatu yang lebih besar yang hendak dijaga: kebersamaan.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, ketika orang lebih sering berurusan dengan kepentingannya sendiri, gotong royong menghadapi tantangan baru.
Warga bisa saja menunggu program pemerintah.
Bisa pula menunggu ada bayaran. Tetapi lingkungan tidak selalu bisa menunggu. Ketua TPS 3R Batujajar Barat, Pa Saepudin, melihat gejala itu mulai terasa.
Menurutnya, program padat karya memang membantu perekonomian masyarakat. Namun, jangan sampai kebiasaan menerima imbalan justru mengikis kesadaran untuk bergerak bersama.
“Dengan adanya program padat karya, kesadaran masyarakat mulai pudar. Kalau tidak dibayar, sebagian masyarakat seolah enggan untuk ikut. Padahal gotong royong merupakan bagian dari kekuatan masyarakat.”
Bagi Saepudin, gotong royong tidak boleh mati hanya karena tidak ada upah.Sebab tidak semua persoalan lingkungan bisa diselesaikan dengan program pemerintah. Ada persoalan yang membutuhkan kesadaran.Ada yang membutuhkan kebiasaan.
Dan ada yang hanya bisa selesai ketika warga mau turun tangan.
Selokan Bukan Tempat Sampah
Dari selokan, pembicaraan kemudian bergeser kepada persoalan yang lebih mendasar: sampah.
Sampah yang dibuang sembarangan tidak hilang.
Ia hanya berpindah tempat.
Sebagian berakhir di selokan. Menumpuk. Menghambat aliran air. Lalu menjadi persoalan ketika hujan datang.
Karena itu, Saepudin mengajak warga memulai perubahan dari tempat paling dekat: rumah sendiri.
Tidak perlu menunggu kerja bakti.
Tidak perlu menunggu petugas datang.
Cukup mulai memilah sampah dan membuangnya pada tempat yang semestinya.
“Kesadaran masyarakat bisa dimulai dari rumah. Minimal memilah sampah dan tidak membuang sampah sembarangan. Insyaallah kalau dilakukan bersama-sama akan menghasilkan lingkungan yang bersih dan asri.”
Pesan itu terdengar sederhana.
Tetapi justru dari hal-hal sederhana itulah sebuah kebiasaan terbentuk.
Anak-anak Ikut Turun Tangan
Ada pemandangan lain yang menarik pagi itu.
Anak-anak ikut berada di tengah kegiatan.
Mereka tidak hanya melihat orang dewasa bekerja. Mereka diperkenalkan langsung pada arti menjaga lingkungan.
Memungut sampah.
Menjaga saluran air.
Membuang sampah pada tempatnya.
Hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele hari ini, tetapi bisa menjadi kebiasaan ketika mereka tumbuh dewasa.
Sebab lingkungan yang bersih tidak lahir dari slogan.
Ia lahir dari kebiasaan.
Dan kebiasaan paling kuat biasanya dimulai sejak kecil. Anak-anak perlu memahami bahwa kebersihan bukan semata tugas pemerintah. Bukan hanya pekerjaan petugas kebersihan.
Lingkungan adalah rumah bersama.
Maka menjaganya pun harus bersama-sama.
Dari RW 02, Sebuah Pesan Dikirim
Kerja bakti itu kemudian ditutup dengan balakecrakan, makan bersama di Pos Mencrang.
Setelah lumpur, sampah dan saluran air dibersihkan, warga duduk bersama.
Makan bersama.
Berbincang.
Tertawa.
Di situlah gotong royong menemukan maknanya yang paling sederhana: bekerja bersama, kemudian menikmati kebersamaan.
Tetapi pekerjaan belum selesai.
Sebab satu kali kerja bakti tidak akan pernah cukup untuk membuat lingkungan tetap bersih.
Yang dibutuhkan adalah kebiasaan.
Dari rumah bergerak ke RT.
Dari RT menguat menjadi RW.
Dari RW menyebar ke seluruh Desa Batujajar Barat.
Gotong royong pada akhirnya bukan sekadar soal siapa yang mengangkat sampah paling banyak.
Bukan pula tentang siapa yang datang paling pagi.
Gotong royong adalah kesadaran bahwa tempat kita hidup adalah milik bersama. Dan sesuatu yang kita miliki bersama, harus kita jaga bersama. RW 02 bergerak. Batujajar Barat peduli. Bersih lingkungannya. Kuat gotong royongnya. ***
