Dari Masa Sulit Menuju Perusahaan Sehat, Begini Perjalanan Tirta Wibawa Mukti KBB
BANDUNG BARAT – Perjalanan Perumda Air Minum Tirta Wibawa Mukti (TWM) Kabupaten Bandung Barat bukanlah cerita yang dibangun dalam semalam. Ada proses panjang, perubahan manajemen, persoalan kerja sama, hingga penataan perusahaan yang akhirnya membawa TWM menuju kondisi yang lebih sehat.
Cikal bakal perusahaan ini dimulai pada 2009, ketika Pemerintah Kabupaten Bandung Barat membentuk BUMD melalui Perda Nomor 21 Tahun 2009. Saat itu, perusahaan masih berbentuk PT PMgS dengan modal dasar Rp5 miliar dan bergerak di sejumlah bidang, mulai dari agrobisnis, kepariwisataan, pengelolaan air baku, hingga jasa sarana dan prasarana.
Memasuki 2011, perjalanan pelayanan air minum mulai menemukan bentuknya. Melalui Perda Nomor 16 Tahun 2011, diberikan penyertaan modal awal Rp5 miliar. PT PMgS kemudian mengakuisisi Koperasi Air Bersih Pakusarakan dan mulai mengoperasikan pelayanan air minum pada 28 Desember 2011.
Penguatan modal berlanjut. Melalui Perda Nomor 13 Tahun 2012, pemerintah daerah menambah penyertaan modal sebesar Rp35 miliar yang diberikan secara bertahap hingga 2017.
Kerja Sama dan Tantangan
Dalam perjalanannya, PT PMgS juga membangun kerja sama dengan investor. Pada 2012, terjalin kerja sama dengan PT Bravo untuk pengelolaan SPAM Cijanggel dengan masa kerja sama 25 tahun.
Dua tahun kemudian, pada 2014, kerja sama kembali dilakukan dengan PT N Three untuk SPAM Cibanteng dengan masa kerja sama 22 tahun.
Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Sejumlah persoalan hukum muncul dalam kerja sama dengan PT Bravo. Perusahaan tersebut kemudian diakuisisi PT TIP pada 2020 dan dilakukan penyesuaian melalui pernyataan kembali kerja sama.
Berbagai persoalan tersebut menjadi bagian dari proses panjang yang harus diselesaikan perusahaan.
2022, Babak Baru Tirta Wibawa Mukti
Tahun 2022 menjadi titik penting dalam sejarah perusahaan.
Sejalan dengan amanat PP Nomor 54 Tahun 2017, pengelolaan air minum diarahkan dilakukan oleh Perusahaan Umum Daerah. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat kemudian menerbitkan Perda Nomor 9 Tahun 2022 tentang pembentukan Perumdam Tirta Wibawa Mukti.
Momentum tersebut ditandai dengan serah terima pengelolaan dari PT PMgS kepada Perumdam Tirta Wibawa Mukti.
Inilah awal babak baru TWM.
Memasuki masa transisi pada 2023, perusahaan melakukan pembenahan dari dalam. Manajemen ditata, persoalan utang diselesaikan, serta dilakukan konsolidasi dengan para mitra.
Sejumlah kerja sama yang dinilai tidak lagi memberikan keuntungan yang seimbang juga ditinjau kembali. Salah satunya berujung pada pemutusan kerja sama dengan PT N Three.
Berbenah dan Bangkit
Periode 2023 hingga awal 2024 menjadi masa penting untuk memperkuat fondasi perusahaan.
TWM melakukan penataan manajemen dan operasional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan yang merupakan warisan dari masa sebelumnya.
Tidak mudah.
Hasil evaluasi kinerja oleh BPKP untuk tahun 2022 dan 2023 masih menempatkan perusahaan dalam kategori kurang sehat, dengan kondisi mengalami kerugian.
Namun, kondisi tersebut justru menjadi pijakan untuk berbenah.
Dari Kurang Sehat Menjadi Sehat
Kerja keras penataan perusahaan mulai menunjukkan hasil.
Pada 2024 dan 2025, hasil evaluasi kinerja oleh BPKP menyatakan Perumdam Tirta Wibawa Mukti berada dalam kondisi sehat dan mencatatkan laba.
Perubahan tersebut menjadi salah satu tonggak penting perjalanan TWM.
Tidak hanya mampu memperbaiki kinerja, perusahaan juga mulai memberikan kontribusi kepada daerah. Berdasarkan keputusan Bupati, 50 persen dari laba perusahaan dialokasikan untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Untuk tahun 2024, TWM telah menyetorkan PAD sebesar Rp74,8 juta. Sementara pada 2025, kontribusinya meningkat menjadi Rp178,3 juta.
2026, Menatap Masa Depan
Memasuki 2026, TWM terus menunjukkan perkembangan.
Meski sejak proses spin-off dari PT PMgS perusahaan belum mendapatkan penyertaan modal baru, TWM mampu mempertahankan tren positif dan meningkatkan kinerjanya.
Saat ini, pendapatan perusahaan disebut telah mencapai sekitar Rp1,2 miliar per bulan.
Perjalanan dari perusahaan yang pernah dinilai kurang sehat hingga menjadi perusahaan dengan kinerja sehat tentu bukan sekadar perubahan angka.
Di baliknya ada proses panjang: membenahi manajemen, menyelesaikan persoalan lama, menata kerja sama, meningkatkan kualitas SDM, hingga membangun kembali kepercayaan.
Tirta Wibawa Mukti kini memasuki babak baru.
Dari perjalanan yang penuh tantangan, TWM perlahan tumbuh menjadi perusahaan daerah yang lebih sehat, lebih tertata, dan diharapkan semakin mampu memberikan pelayanan air minum sekaligus kontribusi nyata bagi Kabupaten Bandung Barat. ***
