Arsan Latif Masuk DPP PRI, Tegaskan Tak Akan Berpolitik Praktis di Bandung Barat
BANDUNG BARAT — Mantan Penjabat (Pj) Bupati Bandung Barat, Arsan Latif, memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya.
Setelah puluhan tahun berkiprah di birokrasi pemerintahan, Arsan kini bergabung dengan Partai Rakyat Indonesia (PRI) dan dipercaya menjabat Ketua Bidang Dalam Negeri Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
Bergabungnya Arsan dengan partai besutan Muhammad Nazaruddin tersebut menandai peralihan perannya dari birokrat ke pengurus partai politik.
Namun, ia menegaskan tidak akan terlibat dalam politik praktis di Kabupaten Bandung Barat, termasuk dalam kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada).
“Di Kabupaten Bandung Barat ini saya tegaskan tidak akan berpolitik praktis, termasuk Pilkada. Cukup menjadi pengurus partai saja di DPP PRI,” ujar Arsan saat dikonfirmasi, Kamis (8/10/2026).
Penegasan itu sekaligus memperjelas posisi Arsan di tengah dinamika politik Bandung Barat.
Ia menyatakan ingin menjalankan peran di tingkat pusat melalui penguatan organisasi, pendidikan politik, dan pembinaan kader.
Modal Pengalaman Panjang di Pemerintahan
Kepercayaan yang diberikan PRI kepada Arsan tidak terlepas dari perjalanan panjangnya di birokrasi pemerintahan.
Karier Arsan dimulai dari jabatan lurah di Kabupaten Sidrap, kemudian berlanjut sebagai sekretaris kecamatan.
Ia selanjutnya menempati sejumlah posisi strategis di Kementerian Dalam Negeri, mulai dari pejabat pada bidang pengelolaan barang milik daerah, pajak dan retribusi daerah, hingga direktorat yang menangani pendapatan serta perencanaan anggaran daerah.
Arsan juga pernah menjabat Inspektur IV Inspektorat Jenderal Kemendagri sebelum diangkat menjadi Pj Bupati Bandung Barat pada 2023.
Pengalaman tersebut kini menjadi bekal Arsan dalam menjalankan tugas organisasi di DPP PRI, khususnya pada bidang politik dalam negeri.
Dalam posisi barunya, ia mengemban tanggung jawab yang berkaitan dengan pendidikan politik, penguatan demokrasi, pengembangan kelembagaan, serta pemantauan dinamika politik di daerah.
Tugas itu mencakup penyiapan kebijakan teknis organisasi, koordinasi program pembinaan politik, hingga evaluasi terhadap perkembangan politik di tingkat lokal maupun nasional.
Selain itu, Bidang Dalam Negeri diarahkan untuk memperkuat pendidikan etika dan budaya politik, mendorong partisipasi masyarakat dalam demokrasi, serta membangun koordinasi dengan lembaga pemerintahan dan lembaga perwakilan.
Deteksi dini terhadap potensi konflik politik juga menjadi bagian dari perhatian bidang tersebut.
Fokus Cetak Kader, Bukan Berebut Jabatan
Bagi Arsan, bergabung dengan partai politik bukan semata-mata soal jabatan, melainkan kesempatan untuk berkontribusi dalam proses demokrasi dan pembentukan kebijakan publik.
Ia menilai, pengabdian kepada masyarakat tidak harus dilakukan dengan menduduki jabatan publik. Kontribusi juga dapat diwujudkan melalui kerja organisasi, pendidikan politik, dan pembinaan calon pemimpin.
“Menjadi pengurus partai artinya kita bersedia melayani, meluangkan waktu, pemikiran, dan energi untuk menjalankan roda organisasi partai dari tingkat pusat hingga ranting-ranting di desa dan kelurahan,” katanya.
Ke depan, Arsan mengaku ingin mendorong lahirnya kader-kader PRI yang berkualitas, memiliki kompetensi, serta mampu menjalankan fungsi kepemimpinan dengan orientasi pelayanan kepada masyarakat.
Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bandung Barat, menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatiannya dalam upaya pengembangan kader tersebut.
“Prinsipnya, kami akan mencetak kader-kader partai yang berkualitas, mumpuni, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Hal itu ditunjukkan melalui sikap melayani sehingga mereka memahami tujuan yang ingin dicapai,” ujar Arsan.
Menurut dia, pembinaan kader harus ditopang koordinasi organisasi yang sehat. Dengan demikian, potensi konflik internal dapat dicegah, kondusivitas organisasi terjaga, dan partisipasi politik masyarakat dapat berkembang secara sehat.
PRI Sambut Bergabungnya Arsan
Sementara itu, Wakil Ketua Umum DPP PRI, Slamet Suparmaji, menyambut bergabungnya Arsan dengan partai tersebut.
Slamet menilai pengalaman Arsan di bidang pemerintahan daerah, terutama dalam pengelolaan keuangan daerah, dapat menjadi modal dalam pengembangan organisasi dan peningkatan kapasitas kader PRI.
“Hadirnya Bang AL memberikan semangat tersendiri bagi PRI karena pengalaman beliau dalam bidang pemerintahan daerah sudah tidak diragukan lagi,” kata Slamet.
Ia juga menyebut Arsan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk membina kader, terutama dalam memahami persoalan pemerintahan dan keuangan daerah.
“Bagi kami, bergabungnya Pak Arsan Latif menjadi nilai positif bagi partai, juga tentunya bagi kader-kader PRI di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Bergabungnya Arsan kini membuka ruang pengabdian baru setelah perjalanan panjangnya di birokrasi.
Namun, untuk Bandung Barat, ia telah menyampaikan sikapnya secara tegas: tidak terlibat dalam politik praktis, termasuk Pilkada.
Fokus yang ia nyatakan adalah membangun organisasi dan menyiapkan kader yang memiliki kapasitas kepemimpinan serta orientasi pelayanan kepada masyarakat. ***
