Liga Desa di KBB Bukan Sekadar Sepak Bola, UMKM Ditantang Ikut Panen Rezeki

BANDUNG BARAT — Puluhan ribu tim sepak bola, ribuan pertandingan, dan peluang ekonomi yang terbuka di tingkat desa.

Liga Desa 2026/2027 bukan sekadar ajang adu kemampuan di lapangan hijau, tetapi juga momentum untuk menguji sejauh mana kegiatan berskala nasional mampu menggerakkan ekonomi rakyat.

Kabupaten Bandung Barat (KBB) mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah pembukaan kompetisi yang diinisiasi Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).

Kick off berlangsung di Lapangan Panglejar, Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalongwetan, Sabtu (10/10/2026).

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menegaskan, Liga Desa diharapkan membawa manfaat lebih luas daripada sekadar kompetisi olahraga.

Menurutnya, aktivitas yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar berpotensi membuka ruang usaha bagi pedagang kecil sekaligus memperkuat perekonomian desa.

“Olahraga rakyat ini akan membangkitkan UMKM, ekonomi desa akan bergerak, para pedagang kecil bisa berjualan, sehingga ini benar-benar mengangkat perekonomian dari desa,” ujar Yandri.

Pernyataan tersebut menempatkan Liga Desa sebagai salah satu upaya mendorong ekonomi kerakyatan melalui kegiatan olahraga.

Namun, besarnya skala penyelenggaraan juga menghadirkan tantangan: peluang ekonomi yang muncul harus benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat setempat, bukan sekadar menjadi dampak sampingan sebuah acara besar.

Pedagang makanan dan minuman, pelaku UMKM, hingga usaha jasa di sekitar lokasi kegiatan berpotensi memperoleh tambahan pendapatan apabila aktivitas kompetisi mampu mendatangkan pengunjung dan menciptakan perputaran uang di lingkungan desa.

Karena itu, keberhasilan Liga Desa tidak cukup diukur dari jumlah tim yang berpartisipasi atau kemeriahan pembukaan. Dampak nyata terhadap pendapatan masyarakat juga menjadi hal penting untuk diperhatikan.

Yandri mengatakan, kompetisi tersebut juga memiliki misi memperkuat hubungan sosial antarwarga desa.

“Ini akan membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan di desa, kemudian silaturahmi antarwarga akan semakin kuat. Masyarakat terhibur, ekonomi bergerak kencang,” katanya.

Liga Desa 2026/2027 diikuti 20 ribu tim dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Desa Nasional 2026 bertema Festival Bangun Desa Bangun Indonesia.

Selain sepak bola, rangkaian kegiatan tersebut mencakup kompetisi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), penghargaan bagi pemuda-pemudi pelopor, serta lomba film pendek.

Pembukaan Liga Desa di Bandung Barat dihadiri Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ahmad Riza Patria, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, serta Bupati dan Wakil Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail dan Asep Ismail.

Yandri menyebut Bandung Barat dipilih menjadi tuan rumah kompetisi tersebut.

“Hari ini kita laksanakan kick off menandai dimulainya Liga Desa 2026/2027. Pesertanya ada 20 ribu tim se-Pulau Jawa, dan KBB kita pilih sebagai tuan rumah,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengapresiasi kepercayaan pemerintah pusat kepada daerahnya untuk menjadi lokasi pembukaan ajang tersebut.

Jeje menilai, momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi desa sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

“Tentunya kami sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Bandung Barat sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan penting bagi kemajuan desa di Indonesia ini,” ucap Jeje.

Ia menegaskan, pembangunan desa harus ditopang oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Pembangunan desa perlu kita dorong secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Kini, pekerjaan berikutnya adalah memastikan peluang itu tidak berhenti sebagai janji. Liga Desa akan semakin bermakna apabila kehadirannya benar-benar dirasakan warga, terutama pedagang kecil dan pelaku UMKM yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi di lingkungannya.

Sebab, ketika sepak bola mampu menggerakkan ekonomi desa, kemenangan sesungguhnya bukan hanya milik tim yang mengangkat trofi, melainkan juga masyarakat yang ikut merasakan manfaatnya. ***