Hadapi Ancaman El Nino, DKPP Bandung Barat Siapkan 157 Pompa Air dan Strategi Khusus Selamatkan Pertanian
BANDUNG BARAT – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat bergerak cepat mengantisipasi dampak musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino. Berbagai langkah strategis disiapkan untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus meminimalkan risiko gagal panen.
Kepala DKPP Kabupaten Bandung Barat, Lukmanul Hakim, mengatakan upaya yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penyediaan sarana pengairan, tetapi juga mencakup penyesuaian pola budidaya, penguatan kelembagaan petani, hingga penyediaan cadangan pangan daerah.
“Strategi yang kami lakukan meliputi penguatan infrastruktur pengairan, penyediaan pompa air, penyesuaian teknis budidaya, penguatan kelembagaan petani, serta penyediaan cadangan pangan daerah,” ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Menurut Lukmanul, penguatan infrastruktur dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan pompa air, irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, jaringan irigasi air tanah, rehabilitasi saluran irigasi primer, sekunder, dan tersier, serta pembangunan sarana konservasi air.
Di sektor budidaya, petani didorong menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti padi gogo (Inpago), berbagai jenis palawija, serta komoditas lain yang membutuhkan air lebih sedikit.
Selain itu, DKPP juga mendorong penerapan metode System of Rice Intensification (SRI), penggunaan mulsa, penyesuaian jadwal tanam, dan diversifikasi tanaman sebagai langkah menghemat penggunaan air selama musim kemarau.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan di lapangan, DKPP menggandeng berbagai pihak, mulai dari kelompok tani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), TNI, Polri, hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.
“Kami memperkuat sinergi semua pihak agar penanganan kekeringan dapat dilakukan secara cepat dan tepat,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah menyalurkan 157 unit pompa air berukuran 3 inci yang bersumber dari APBN 2026. Bantuan tersebut didistribusikan pada Mei hingga Juni 2026 ke 13 kecamatan yang berpotensi terdampak kekeringan.
Pompa air tersebut diperkirakan mampu melayani areal pertanian seluas 785 hingga 1.500 hektare, tergantung kondisi lahan dan sumber air yang tersedia.
DKPP juga menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi gagal panen. Bantuan benih dari buffer stock daerah akan disalurkan kepada petani, meski saat ini stok yang tersedia masih terbatas pada varietas Inpari 32 dan Ciherang.
Sementara itu, verifikasi lahan terdampak terus dilakukan bersama POPT untuk pengajuan klaim Asuransi Usaha Tanaman Pangan (AUTP).
Sebagai langkah pencegahan, DKPP mengimbau petani menggunakan benih padi varietas tahan kekeringan seperti Inpari 42 dan Inpari 48, serta benih jagung hibrida pada musim kemarau 2026.
“Dengan berbagai langkah tersebut, kami berharap dampak kekeringan terhadap sektor pertanian dapat ditekan sehingga produksi pangan di Kabupaten Bandung Barat tetap terjaga,” pungkas Lukmanul. ****
