Menanam Kebaikan Selagi Sempat
Catatan Jurnalistik Hendry Ch Bangun
SETELAH berjalan kaki sambil mencari udara segar di sekitar rumah selama 45 menit, disusul olahraga indoor dengan delapan gerakan selama sekitar 15 menit, saya duduk di teras rumah.
Di balik pagar, tumbuh pohon mangga berusia sekitar enam tahun. Pohon itu sedang berbunga lebat.
Ada sekitar 20 klaster bunga dari berbagai ranting, mencuat di antara rimbunnya daun hijau. Jika berhasil menjadi buah, mungkin dua atau tiga bulan lagi ratusan mangga bisa dipetik.
Namun, biasanya hanya sebagian yang bertahan karena banyak yang gugur dalam proses pembuahan.Perasaan saya masih agak galau.
Akhir pekan lalu, dengan wajah sumringah, saya menyampaikan kepada istri bahwa ada enam buah mangga muda berukuran sekitar 8–10 sentimeter yang tersembul di balik dedaunan.
Buah-buah itu tersembunyi di belakang dua putik mangga kecil sebesar kelereng yang selama ini tidak saya lihat.
Padahal, hampir setiap sore saya naik ke teras atas untuk menutup pintu, menghidupkan lampu, dan terkadang menyiram pot-pot bunga di tepi pagar jika anak lupa menjalankan tugasnya.
Melihat enam mangga muda itu, saya segera memanggil istri dan menyampaikan kabar gembira. Kabar baik, karena mangga hasil cangkokan yang kami beli dari salah satu kios di Graha Raya Bintaro itu baru sekali memberikan buah.
Dua tahun lalu, pohon tersebut menghasilkan mangga Thailand berukuran besar, sekitar 25 sentimeter, dengan bentuk gemuk. Rasanya manis dan lezat. Sayangnya, hanya satu buah yang sempat kami nikmati karena buah lainnya dicuri sebelum matang.
Maklum, pohon itu berada di luar pagar. Dengan sedikit usaha, siapa pun yang lewat bisa mengambil buahnya karena rantingnya menjuntai hanya sekitar tiga meter dari tanah.
Kegembiraan itu ternyata hanya bertahan empat hari.
Suatu sore, saya menemukan “bangkai” mangga di luar pintu pagar. Satu buah mangga muda berukuran sekitar 10 sentimeter tergeletak di tanah. Ada sedikit goresan, tetapi buah itu masih utuh.
Penasaran, saya segera naik ke teras atas untuk mengecek. Ternyata, rangkaian enam mangga muda itu sudah tidak ada.
Keesokan paginya, saya mengajak istri mencari di antara daun-daun, siapa tahu mata saya keliru. Tidak ada.
Tak lama kemudian, saya mengajak anak untuk ikut melihat. Mata anak muda tentu lebih awas. Namun, hasilnya sama. Tidak ada. Hilang sudah harapan kami.
Terpaksa kami menunggu lebih lama untuk dapat menikmati mangga Thailand yang matang. Kalau Allah mengizinkan, tentu saja.
Saya termasuk orang yang suka menanam, terutama tanaman buah-buahan.
Di rumah orangtua di Padang Bulan, Medan, masih ada pohon mangga golek yang saya tanam dan hingga kini tetap hidup.
Sekitar tahun 1967, ketika ayah saya datang dari Jakarta, ia membawa oleh-oleh mangga. Bijinya kemudian saya tanam di samping sumur.
Ternyata tumbuh subur dan berbuah lebat. Buahnya pun enak dimakan.
Di rumah lama saya di Kampung Sawah, Ciputat, juga ada berbagai macam tanaman buah. Pernah ada pohon sawo kecil yang berbuah sangat banyak. Jika ada saudara datang, mereka bisa memetik hingga setengah ember untuk dibawa pulang.
Namun, pohon itu akhirnya terpaksa ditebang karena buahnya sering dimakan kelelawar. Air liurnya bahkan dimuntahkan ke tembok tetangga dan mobil yang sedang parkir di tepi jalan.
Ada pula pohon kakao yang bibitnya saya bawa dari kebun kakak sepupu di dekat Sunggal. Buahnya besar dan banyak. Namun, sering diambil anak-anak tetangga karena, konon, enak dimakan seperti pepaya.
Ada pohon mangga yang tumbuh tinggi dan besar, tetapi jarang berbuah. Pertumbuhannya juga kalah oleh tanaman parasit sehingga akhirnya harus ditebang.
Selain itu, ada pohon salam, belimbing, dan berbagai tanaman lainnya. Di depan rumah saya sekarang juga tumbuh pohon bintaro dan pohon mangga yang tingginya baru sekitar tiga meter. Ada pula pepaya dan belimbing.
Hobi menanam ini semakin kuat dalam diri saya setelah mendengar khotbah dalam salat Jumat di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, pada Agustus 1991.
Ketika itu, saya bersama wartawan Antara, Bahran Asmawi. Sekitar 34 tahun lalu, saya diajak mengunjungi ruang kerjanya dan ruang kerja wartawan Kompas, Threes Nio. Karena bertepatan dengan hari Jumat, kami kemudian salat berjamaah di salah satu ruangan besar.
Saya sendiri berada di New York untuk meliput kiprah petenis Indonesia, Yayuk Basuki, yang akhirnya gugur di babak ketiga turnamen Grand Slam AS Terbuka setelah dikalahkan Monica Seles.
“Walaupun besok datang kiamat, kalau di tanganmu ada sebuah bibit, tanamlah,” ujar khatib, mengutip hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Ahmad.
Pesan tersebut bagi saya sangat kuat: selama masih ada napas, tanamlah kebaikan, bahkan mungkin hingga helaan napas terakhir.
Pohon adalah salah satu bukti nyata dari kebaikan itu. Pohon memberikan banyak manfaat bagi manusia. Ia menghasilkan buah, menghijaukan tanah yang gersang, menyerap karbon, menghasilkan oksigen, membersihkan udara, dan menjadi tempat hidup berbagai makhluk.
Saya semakin terinspirasi menjalankan imbauan itu karena di Indonesia menanam sebenarnya sangat mudah. Seperti kata lagu Koes Plus, tongkat kayu saja dilempar bisa menjadi tanaman.
Kita bisa melihat di hutan-hutan kecil maupun besar, tanaman tumbuh begitu saja dari buah yang jatuh, biji yang dibawa burung, atau benih yang diterbangkan angin.
Bahkan di tembok rumah pun terkadang tumbuh tanaman atau pohon kecil. Tidak sekadar lumut atau tanaman parasit.
Ketika berjalan kaki dan berolahraga, saya kerap menemukan bibit pohon liar di pinggir jalan. Saya pungut dan tanam. Ada bibit mangga, bintaro, alpukat, dan lainnya.
Disiram beberapa kali, setelah itu biarkan alam bekerja. Ia akan tumbuh sendiri menjadi sesuatu yang bermanfaat dan menjadi amal kebaikan yang berumur panjang.
Bahkan ketika kita sudah tidak ada, sepanjang pohon itu masih hidup dan memberikan manfaat, kebaikan yang kita tanam akan terus dirasakan orang lain.
Menanam kebaikan melalui pohon sebenarnya sejalan dengan profesi wartawan. Bedanya, yang ditanam wartawan adalah berita yang diproduksinya, kemudian dibaca, ditonton, didengar, atau dinikmati oleh pembaca, pemirsa, dan audiens.
Berita yang bermutu, mencerahkan, memotivasi, dan melahirkan inspirasi ibarat pohon yang berbuah banyak, berdaun lebat, serta memberikan kesejukan.
Berita seperti itu hanya bisa lahir jika dimulai dengan niat baik, perencanaan yang matang, pengumpulan data dan fakta yang memadai, narasumber yang kompeten, serta pemilihan kata dan kalimat yang tepat. Semuanya tentu harus sesuai dengan kode etik jurnalistik.
Memiliki kosakata yang banyak merupakan salah satu modal penting seorang wartawan. Karena itu, wartawan harus banyak membaca, baik buku, artikel, maupun berbagai sumber lainnya.
Saya beruntung mengalami masa awal kewartawanan ketika berita yang datang melalui teleks, seperti AFP dan Reuters, masih harus diterjemahkan. Di meja pimpinan juga masih tersedia koran-koran terbitan luar negeri.
Dari sana kami bisa mengetahui dan mengenal kualitas tulisan wartawan profesional dari berbagai negara. Pemilihan diksi dan gaya bahasa mereka bisa dipelajari. Lama-kelamaan, apa yang dibaca akan tertanam di kepala dan membentuk karakter serta ciri khas tulisan seseorang.
Saya teringat Bob Hasan ketika menjadi Ketua Umum PB PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia). Ia sering mengatakan agar wartawan jangan hanya mencari-cari kesalahan atlet.
Pada masa itu, media cetak umumnya cenderung keras memberitakan prestasi atlet Indonesia.
“Indonesia gagal meraih medali emas,” misalnya, ditulis ketika tim Indonesia meraih medali perak setelah mengalahkan sejumlah lawan.
Padahal, di koran The Straits Times, atlet Singapura yang meraih medali perunggu bisa diberitakan dengan pujian dan memberikan rasa bangga kepada sang atlet.
Setiap prestasi, sekecil apa pun, memang layak dihargai. Hal itu penting karena kita hidup dalam masyarakat yang memiliki pepatah, “Sudah jatuh tertimpa tangga.”
Pengorbanan dan kerja keras seseorang jangan sampai tidak dihargai. Seseorang bisa menjadi korban dua kali: pertama karena mengalami peristiwa buruk, kedua karena pemberitaan yang tidak sensitif terhadap kondisi dirinya.
Itulah sebabnya Dewan Pers menyusun, antara lain, Pedoman Pemberitaan Ramah Anak, Pedoman Pemberitaan Ramah Disabilitas, dan Pedoman Pemberitaan Terkait Upaya Bunuh Diri.
Tujuannya agar media membuat pemberitaan yang berempati, khususnya terhadap mereka yang menjadi korban, menghadapi persoalan, atau mengalami trauma akibat suatu kejadian.
Dengan niat bahwa membuat berita adalah menanam kebaikan, bukan berarti media tidak boleh menyampaikan kritik atau menghilangkan fungsi kontrol sosial sebagai salah satu pilar demokrasi.
Media tetap harus kritis terhadap berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan publik, khususnya penyelenggaraan negara.
Hanya saja, sudut pandang dan diksi yang digunakan harus melalui pertimbangan yang dewasa dan bijaksana.
Ada pemimpin yang tidak suka ditunjuk hidungnya, dipermalukan, atau disudutkan. Dalam kondisi seperti itu, gunakanlah cara yang sesuai dengan kondisi sosiologis masyarakat.
Dibutuhkan jam terbang yang tinggi dan kecerdasan emosional agar seorang wartawan matang dalam menjalankan profesinya serta mampu menghasilkan tulisan yang kuat tanpa harus membuat tokoh atau pejabat merasa dipermalukan.
Saya tersenyum geli ketika melihat sebuah media membuat artikel tentang mantan Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma. Dalam artikel tersebut diceritakan bahwa ia konon sering salah menyebut angka ketika berpidato, salah bicara, bahkan suka berjoget di atas panggung.
Pertanyaannya kemudian: orang yang dianggap tidak kompeten kok bisa menjadi presiden? Jawabannya, ia bisa terpilih dan bahkan mendapat dukungan dari pendahulunya.
Tidak perlu terlalu pintar untuk memahami pesan yang ingin disampaikan artikel tersebut.
Ya, wartawan tidak boleh bosan belajar.
Caranya dengan banyak membaca, berbicara dengan orang-orang pintar dan bijak, serta memahami esensi kehidupan bernegara dan bertanah air.
Kalau sudah demikian, profesi kewartawanan kita tidak lagi sekadar menjadi penyampai informasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menyebarkan kebaikan bagi umat manusia.
Wallahu a’lam bishawab.
Ciputat, 23 Agustus 2026
