Semarak Budaya 2026: Anak Muda Diajak Jaga Bahasa dan Jati Diri Sunda

SOREANG,— Pelestarian bahasa dan budaya Sunda di tengah derasnya perkembangan teknologi digital jadi perhatian dalam kegiatan Semarak Budaya 2026 yang digelar di Pendopo Sri Agung Jaya, RM Bakso H. Soni, Soreang, Kabupaten Bandung, Sabtu (15/8/2026).

Mengangkat tema “Budaya Sunda dan Anak Muda Zaman Sekarang” dengan subtema “Ngamumule Budaya, Ngawangun Jati Diri, Ngahiji dina Kreativitas”, kegiatan ini diikuti sekitar 100 pengurus OSIS tingkat SMA/sederajat dari Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Semarak Budaya 2026 ini bukan cuma jadi panggung pertunjukan seni. Acara ini juga jadi ruang ngobrol bareng antara anak muda, budayawan, tokoh masyarakat, dan pelaku seni soal gimana budaya Sunda tetap hidup dan relevan di zaman sekarang.

Budaya Sunda sendiri dipandang bukan sekadar warisan masa lalu, tapi juga sumber nilai, karakter, identitas, dan kekuatan masyarakat.

Jangan Sampai Anak Muda Kehilangan Akar Budaya

Penanggung jawab acara, H. Hendra Gunawan, mengajak generasi muda untuk terus belajar, memahami, dan memakai bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, perkembangan internet dan media sosial bikin anak muda sekarang gampang banget terpapar berbagai bahasa, budaya, dan gaya hidup dari seluruh dunia.

Keterbukaan itu memang bagian dari zaman, tapi tetap harus diimbangi dengan kesadaran untuk mengenal dan menjaga identitas sendiri.

“Jangan sampai anak-anak muda kita lebih kenal budaya luar, tapi malah nggak kenal bahasa dan budayanya sendiri,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, cinta budaya sendiri bukan berarti menutup diri dari budaya lain. Justru, kalau punya identitas yang kuat, anak muda bisa tetap percaya diri bergaul di dunia global tanpa kehilangan jati diri.

Bahasa Bawa Nilai, Nilai Bentuk Karakter

Pesan ini juga diperkuat budayawan Sunda, H. Robby Maulana Zulkarnaen, dalam talkshow bertema “Bangga Menggunakan Bahasa dan Budaya Sunda.”

Kang Robby bilang, bahasa itu bukan cuma alat komunikasi, tapi juga pembawa nilai dan pembentuk karakter.

“Bahasa menentukan nilai, nilai menentukan karakter, dan karakter menentukan kekuatan,” katanya.

Dalam budaya Sunda, bahasa mengandung nilai kehidupan seperti someah, silih asih, silih asah, silih asuh, handap asor, tata krama, dan rasa hormat ke sesama.

Makanya, bangga pakai bahasa Sunda bukan cuma soal mempertahankan bahasa daerah, tapi juga menjaga nilai dan karakter yang ada di dalamnya.

Salah satu pesan yang muncul dalam acara ini adalah ungkapan “Ilang basana, ilang budayana; ilang budayana, bakal leungit nagarana.”

Artinya, kalau bahasa hilang, budaya juga ikut hilang, dan itu bisa berdampak ke keberlangsungan masyarakat.

Kalau bahasa makin jauh dari kehidupan anak muda, hubungan mereka dengan budaya juga bisa ikut melemah. Nilai-nilai yang selama ini membentuk karakter pun bisa perlahan terkikis.

Adab Sunda Tetap Penting di Era Digital

Talkshow juga menghadirkan Dr. Hj. Diah Nurwitasari, Dip. Ing, tokoh masyarakat, dengan materi “Adab Budaya Sunda di Zaman Sekarang.”

Menurutnya, budaya itu bukan cuma soal seni, pakaian adat, atau bahasa. Tapi juga terlihat dari cara seseorang bersikap dan memperlakukan orang lain.

Nilai sopan santun, hormat ke orang tua, tata krama, kepedulian, dan saling menghargai tetap penting, bahkan di era sekarang.

Di tengah komunikasi digital yang serba cepat, nilai-nilai ini justru makin dibutuhkan supaya generasi muda tetap punya karakter dan jati diri yang kuat.

Wayang Cepot Gaul Sapa Generasi Z

Semarak Budaya 2026 juga makin seru dengan Pagelaran Wayang Cepot Gaul bersama dalang Dadang Setiawan.

Pertunjukan ini menunjukkan kalau seni tradisional bisa dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan dunia anak muda.

Karakter Cepot yang lucu, kritis, dan penuh pesan moral jadi cara asyik untuk menyampaikan nilai budaya ke generasi sekarang.

Acara juga dimeriahkan dengan Mapag Tamu lewat upacara adat, tarian pembuka Natya Dance Community, kawih Sunda, dan sisindiran oleh Sekar Rumiang.

Perpaduan tradisi dan kreativitas ini menunjukkan kalau budaya Sunda bisa terus berkembang tanpa kehilangan akar.

Anak Muda Bukan Cuma Pewaris

Hal penting yang ditekankan dalam Semarak Budaya 2026 adalah cara pandang baru terhadap anak muda.

Mereka bukan cuma penerus budaya, tapi juga harus diberi ruang untuk jadi pelaku dan kreator budaya.

Sekitar 100 pengurus OSIS yang hadir diharapkan bisa membawa semangat ini ke sekolah dan lingkungan masing-masing.

Teknologi yang sering dianggap mengancam budaya justru bisa dimanfaatkan untuk melestarikannya.

Anak muda bisa pakai bahasa Sunda di media sosial, bikin konten budaya, dan memperkenalkan nilai-nilai Sunda lewat berbagai platform digital.

Dengan begitu, budaya Sunda nggak cuma jadi cerita masa lalu, tapi tetap hidup dan relevan di masa sekarang.

Merawat Bahasa, Menjaga Budaya

Semarak Budaya 2026 mengingatkan bahwa menjaga budaya bukan cuma soal masa lalu, tapi juga soal membangun masa depan.

Bahasa dan budaya nggak harus cuma muncul di acara seremonial atau pelajaran sekolah. Keduanya harus hidup dalam keseharian.

Dari bahasa lahir nilai. Dari nilai tumbuh karakter. Dari karakter yang kuat lahir masyarakat yang kuat.

Karena itu, ngamumule basa Sunda bukan cuma soal menjaga kata-kata, tapi juga merawat nilai, karakter, dan jati diri.

Semarak Budaya 2026 jadi pengingat bahwa budaya Sunda nggak cukup hanya diwariskan. Budaya harus dihidupkan, dikembangkan, dan diteruskan lagi ke generasi berikutnya.

Ngamumule Budaya, Ngawangun Jati Diri, Ngahiji dina Kreativitas.