HJKBB ke-19 Perlu Menjadi Penggerak Ekonomi dan Pariwisata, Bukan Sekadar Agenda Seremonial

BANDUNG BARAT– Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bandung Barat (HJKBB) ke-19 seharusnya menjadi momentum strategis untuk merefleksikan perjalanan daerah hasil pemekaran tersebut sekaligus memperkuat arah pembangunan ke depan. Di usia yang hampir dua dekade, masyarakat tidak hanya menantikan seremoni tahunan, tetapi juga berharap hadirnya agenda yang mampu membangkitkan optimisme, menggerakkan ekonomi lokal, memperkuat identitas daerah, dan menghadirkan manfaat nyata bagi warga.

Namun, pelaksanaan peringatan tahun ini memunculkan sejumlah catatan kritis. Persiapan yang terkesan mepet, peluncuran logo dan tema yang dilakukan relatif dekat dengan hari pelaksanaan, serta belum terlihatnya rangkaian agenda besar yang dipublikasikan sejak jauh hari menimbulkan kesan bahwa peringatan hari jadi belum direncanakan secara optimal sebagai instrumen pembangunan daerah.

Analis Pusat Kajian Politik, Pendidikan, Ekonomi dan Pembangunan (PUSKAPOLEKBANG), Asep Iyang Lukman, menilai HJKBB semestinya tidak dipandang sebagai agenda seremonial semata. Momentum tersebut seharusnya menjadi ruang konsolidasi pembangunan yang menghubungkan sektor pemerintahan, ekonomi, pariwisata, budaya, pelayanan publik, hingga pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, salah satu indikator yang menunjukkan lemahnya perencanaan adalah belum terlihatnya rangkaian agenda resmi yang tersusun secara komprehensif dan terpublikasi luas jauh sebelum hari pelaksanaan. Padahal, banyak daerah telah menjadikan hari jadi sebagai kalender tahunan yang terintegrasi dengan berbagai kegiatan ekonomi, budaya, olahraga, pariwisata, investasi, dan pelayanan publik.

Lebih jauh, Kabupaten Bandung Barat hingga saat ini belum berhasil menjadikan peringatan hari jadinya sebagai bagian dari Calendar of Events (CoE) yang memiliki daya tarik regional, provinsi, maupun nasional. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang yang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendongkrak kunjungan wisatawan, meningkatkan tingkat hunian hotel dan penginapan, memperluas pasar UMKM, serta menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Padahal selama beberapa tahun terakhir publik menaruh ekspektasi besar terhadap pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Kabupaten Bandung Barat. Harapan tersebut semakin menguat dengan hadirnya figur kepala daerah yang memiliki latar belakang kuat di industri hiburan dan kreatif. Namun hingga kini, belum terlihat event unggulan berskala besar yang mampu menjadi magnet wisata sekaligus ruang hiburan masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi tantangan dan melemahnya daya beli.

Dalam konteks tersebut, HJKBB sebenarnya dapat menjadi instrumen pemulihan ekonomi daerah. Setiap kegiatan yang diselenggarakan berpotensi menciptakan perputaran ekonomi, membuka peluang usaha, meningkatkan transaksi UMKM, menyerap tenaga kerja sementara, serta mendorong sektor jasa, transportasi, kuliner, dan akomodasi.

Momentum HJKBB juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan paket wisata tematik, city tour, event tourism, hingga program homestay berbasis masyarakat atau Community-Based Tourism (CBT). Melalui pendekatan tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk menghadiri kegiatan seremonial, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung berinteraksi dengan budaya, tradisi, serta kehidupan masyarakat lokal. Selain memperpanjang lama tinggal wisatawan, model ini juga berpotensi meningkatkan belanja wisatawan yang berdampak langsung terhadap perekonomian warga.

“Kalau dirancang dengan baik, HJKBB dapat menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah. Bukan hanya menghadirkan keramaian sesaat, tetapi juga menciptakan transaksi ekonomi, meningkatkan kunjungan wisatawan, memperkuat UMKM, dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” kata Asep Iyang Lukman.

Ia menilai pemerintah daerah perlu mulai menyusun CoE tingkat Kabupaten Bandung Barat yang dirancang sejak jauh hari dan terintegrasi dengan Hari Jadi Jawa Barat maupun peringatan HUT Kemerdekaan RI.

“Peluncuran logo dan branding idealnya dilakukan minimal satu bulan sebelum pelaksanaan, bahkan lebih baik lagi jika dilakukan lebih awal. Dengan begitu pelaku UMKM memiliki waktu untuk memproduksi berbagai suvenir, atribut, dan produk kreatif yang dapat menjadi bagian dari perayaan,” ujarnya.

Menurut Asep, keberhasilan HJKBB pada akhirnya tidak diukur dari kemeriahan seremoninya semata, melainkan sejauh mana kegiatan tersebut mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan pembangunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat Kabupaten Bandung Barat.