PKB Bandung Barat Panaskan Mesin Politik Menuju 2029, Sandi Supyandi: Coaching Harus Berbuah Kerja Nyata
BANDUNG BARAT — Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Bandung Barat mulai memanaskan mesin politik menuju Pemilu 2029.
Meski pesta demokrasi masih beberapa tahun lagi, konsolidasi organisasi dan penguatan kader dinilai tidak boleh menunggu hingga tahun politik tiba.
Ketua DPC PKB Kabupaten Bandung Barat yang juga Ketua Komisi I DPRD KBB, Sandi Supyandi, menegaskan bahwa setiap proses pembelajaran dan konsolidasi partai harus berujung pada kerja nyata di tengah masyarakat.
Hal itu disampaikannya dalam momentum Coaching Clinic PKB Bandung Barat yang diarahkan bukan sekadar sebagai ruang pembekalan kader, tetapi sebagai pijakan untuk membangun pola kerja politik yang lebih terarah, disiplin dan terukur.
“Coaching Clinic bukanlah titik akhir. Ini adalah titik awal untuk bergerak lebih terarah, lebih disiplin, dan lebih terukur,” tegas Sandi, Minggu 13 September 2026.
Menurutnya, materi yang diperoleh kader dalam kegiatan tersebut harus segera diterjemahkan menjadi gerakan konkret di lapangan. Jangan sampai coaching hanya berhenti menjadi catatan tanpa memberikan dampak terhadap organisasi maupun masyarakat.
“Apa yang sudah kita pelajari harus segera diterjemahkan menjadi kerja nyata di lapangan. Jangan sampai coaching hanya menghasilkan catatan, tetapi tidak menghasilkan perubahan organisasi, perubahan cara kerja, dan perubahan kedekatan kita dengan masyarakat,” ujarnya.
Mesin Politik Harus Bergerak dari Sekarang
Sandi menilai kemenangan politik tidak mungkin dibangun secara instan. Termasuk menghadapi Pemilu 2029, PKB harus memulai kerja politik jauh sebelum masa kampanye berlangsung.
Konsolidasi organisasi, penguatan kader, pemetaan wilayah, komunikasi politik, pelayanan kepada masyarakat hingga evaluasi berkala menjadi bagian penting yang harus dijalankan secara konsisten.
“Kemenangan Pemilu 2029 tidak dibangun dalam satu tahun menjelang pemilu. Kemenangan harus dibangun jauh-jauh hari,” katanya.
Karena itu, Sandi meminta setiap kader dan penggerak organisasi memiliki tugas serta target yang jelas dan dapat diukur.
Prinsipnya, kata dia, sederhana: tidak ada wilayah tanpa penggerak, tidak ada penggerak tanpa tugas, dan tidak ada tugas tanpa evaluasi.
Dengan pola tersebut, mesin organisasi diharapkan tidak hanya aktif ketika momentum politik datang, tetapi mampu bekerja secara berkelanjutan dan hadir dalam berbagai persoalan masyarakat.
Menghidupkan Kembali Semangat Pemekaran
Konsolidasi PKB Bandung Barat juga diarahkan untuk menghidupkan kembali semangat awal berdirinya Kabupaten Bandung Barat.
Memasuki usia ke-20, perjalanan KBB dinilai perlu menjadi momentum refleksi. Semangat pemekaran yang dahulu diperjuangkan tidak cukup hanya ditempatkan sebagai catatan sejarah, tetapi harus kembali diterjemahkan menjadi kerja nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bagi PKB, tujuan utama pemerintahan dan perjuangan politik pada akhirnya bermuara pada kemaslahatan masyarakat.
Karena itu, politik tidak boleh berhenti pada perebutan suara saat pemilu. Politik harus hadir dalam bentuk pelayanan, kepedulian, komunikasi serta keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
Dari semangat tersebut, PKB Bandung Barat membawa pesan “Bersatu, Bergerak dan Berkhidmat untuk Bandung Barat.”
Pesan itu sekaligus menjadi fondasi bagi PKB BERGEMA untuk hadir di tengah masyarakat sebagai bagian dari jalan dakwah dan pengabdian.
Sandi menegaskan, kader PKB harus membangun kedekatan dengan masyarakat bukan hanya ketika membutuhkan suara, tetapi melalui kerja yang dilakukan secara konsisten sejak jauh-jauh hari.
Sebab, bagi PKB Bandung Barat, memenangkan hati masyarakat bukan pekerjaan sehari menjelang pencoblosan.
Kepercayaan masyarakat harus dibangun melalui kerja panjang, konsistensi, kedisiplinan dan keberpihakan yang benar-benar dapat dirasakan. ***
